Hipermisis Gravidarum BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Visi dan misi depkes 2010 – 2014 adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dan masyarakat termasuk swasta dan masyarakat madani, melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna merata, bermutu dan berkeadilan, menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan serta menciptakan tata kelolah pemerintah yang baik. Mual dan muntah terjadi pada 60 - 80% primigravida dan 40 - 60% multigravida. Satu diantara 1000 kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG dalam serum. Hiperemesis gravidarum adalah vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolik, atau defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan. Data organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa setiap tahun sejumlah 500 orang perempuan meninggal dunia akibat kehamilan dan persalinan, fakta ini mendekati terjadinya satu kematian setiap menit. Diperkirakan 99% kematian tersebut terjadi di negara-negara berkembang. 1.2. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui pengertian hiperemesis gravidarum 2. Untuk mengetahui etiologi hiperemesis gravidarum 3. Untuk mengetahui patofisiologi hiperemesis gravidarum 4. Untuk mengetahui tanda dan gejala hiperemesis gravidarum 5. Untuk mengetahui penangan hiperemesis gravidarum 1.3. Manfaat - Diharapkan tenaga kesehatan mengerti dan memahami tentang hiperemesis gravidarum sehingga dapat melakukan pencegahan dan penatalaksanaan pada ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum. BAB II TINJAUAN TIORITIS 2.1. Pengertian Mual-muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai menganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena terjadi dehidrasi.(Wiknjosastro, Hanifa. 2007: 275). Hiperemesis Gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu, muntah begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan.(Nugroho, T, 2010:58). Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan yang terjadi pada wanita hamil sehingga menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan kadar elektrolit, penurunan berat badan, dehidrasi ketosis, dan kekurangan nutrisi.(Runiari, N, 2010: 8). Hipermisis Gravidarum adalah rasa mual dan muntah biasanya dialami oleh ibu hamil dimulai antara periode pertama dan kedua terlambat haid. (Salmah, 2006:102). Hipermisis Gravidarum adalah mual muntah yang dikatagorikan berat jika ibu hamil selalu muntah setiap kali minum atau makan. Akibatnya, trubuh sangat lemas, muka pucat, dan frekuensi buang air kecil menurun drastic, aktifitas sehari-hari jadi terganggu, dan keadaan umum menurun. (Rukiah, Y, 2010: 118). 2.2. Etiologi Etiologi Hipermisis Gravidarum belum diketahui dengan pasti, Tiori Endokrin menyatakan bahwa peningkatan kadar progesteron estrogen, dan human chorionic gonadotropin (hCG) dapat menjadi faktor pemacu pada sistemmual dan muntah. (Runiari, N: 8) Penyebab Hiperemesisi Gravidarum secara pasti belum diketahui. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini desebabkan oleh faktor toksin; juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan – perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat –zat lain akibat inanisi. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut. 1. Faktor predisposisi yang sering ditemukan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. 2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik. 3. Elergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebgai salah satu faktor organik. 4. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini rumah tangga yang retak sehingga pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan komflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil sebagai pelarian kesukaran hidup.( Wiknjosastro, Hanifa, 2007:276). 5. Faktor adaptasi dan hormonal, pada wanita hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi Hipermisis Gravidarum dapat dimasukkan dalam ruang lingkup adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia.(Rukiah, Y,2010: 119). 2.3. Patologi Hipermisis gravidarum yang merupakan komplikasi pada hamil muda; bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi, ketidak seimbangan elektrolit disertai alkalosis hipoklomik, serta dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk energy. (Runiari. N,2010: 10). Bedah mayat pada wanita yang meninggal akibat hipermisis gravidarum menunjukkan kelainan-kelainan pada berbagai alat dalam tubuh, yang juga dapat ditemukan pada malnutrisi oleh bermacam sebab. 1. Hati. Pada hipermisis gravidarum tanpa komplikasi hanya ditemukan degenarasi lemak tanpa nekrosis;degenarasi lemak tersebut terletak sentrilobuler. Kelainan lemak ini nampaknya tidak menyebabkan kematian dan dianggapsebagai akibat muntah yang terus menerus. Dapat ditambahkan bahwa separuh penderita yang meninggal karena hiperemisis gravidarum menunjukkan gambaran microskopik hati yang normal. 2. Jantung. Jantung menjadi lebih kecil dari pada biasa dan beratnya atrofi; ini sejalan dengan lamanya penyakit, kadang-kadang ditemukan perdarahan sub-endokardial. 3. Otak. Adakalanya terdapat bercak-bercak perdarahan pad otak dan kelainan seperti pada ensefalopati Wernice dapat dijumpai(dilatasi kapiler dan perdarahan kecil-kecil didaerah corpora mamilaria ventrikel ketiga dan keempat). 4. Ginjal Ginjal tampak pucat dan degenerasi lemak dapat ditemukan pada tubuli kontorti. ( Wiknjosastro, Hanifa, 2007:276). 2.4. Patofisiologi Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karna keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormone estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari system saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyusuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan. (Rukiah,Y, 2010:120). Hipermisis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi factor spikologik merupakan factor utama,, disamping pengaruh hormonal. Yang jelas wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka makan dan mual, akan mengalami emisis gravidarum yang lebih berat. ( Wiknjosastro, Hanifa, 2007:276). 4.5. Tanda dan gejala Batas antara mual dan muntah dalam kehamilan yang masih fisiologik dengan Hipermisis gravidarum tidak jelas, akan tetapi muntah yang menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi memberikan petunjuk bahwa wanita hamil telah memerlukan perawatan yang intensif. (Rukiah,Y, 2010:121). Menurut berat ringannya gejala, hiperemesis dapat dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu : 1. Tingkatan I = Ringan Mual muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan penderita, ibu meras lemas, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 / menit, tekanan darah sistolik menurun, tugor kulit mengurang, lidah mengering dan mata cekung. 2. Tingkat II = Sedang Penderita tampak lebih lemas dan apatis, turgor kulit lebih mengurang, lidah mengering dan tampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris. Berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun , hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapt pula ditemukan dalam kencing. 3. Tingkat III = Berat Keadaan lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati wernicke, dengan gejala : nistagmus, diplopia dan perubahan mental. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukan adanya payah hati. ( Wiknjosastro, Hanifa, 2007:278). 4.6. Penanganan Pertama-tama, bila ada keluhan hiperemesis gravidarum disingkirkan adanya gangguan sistematik lainnya, seperti ulkus peptikum, hepatitis, pielonefritis dan tumor otak yang dapat menimbulkan gejala muntah. Langkah yang paling baik adalah pencegahan, sehingga emesis gravidarum yang dijumpai pada wanita hamil tidak berkembang menjadi hiperemesis gravidarum. Peran bidan dan perawat adalah memberi penyuluhan kepada calon ibu dalam menghadapi gangguan mual dan muntah pada awal kehamilannya. Para calon ibu perlu diyakinkan bahwa kehamilan dan persalinan adalah suatu proses fisiologis dan gangguan mual muntah ini akan menghilang setelah kehamilan 4 bulan (16 minggu). Ibu dianjurkan untuk makan lebih sering dengan porsi kecil dan menghindari makanan berlemak, terlalu manis dan yang berbau serta berbumbu merangsang makanan yang mengandung karbohidrat (biskuit kering, roti bakar) lebih baik dari pada gula-gula dan coklat sebagai sumber energi. Untuk mengurangi keluhan mual muntah. Wanita hamil tersebut dianjurkan untuk makan biskuit atau roti kering / bakar dengan teh hangat sebelum turun dari tempat tidur dan melaksanakan aktivitas. Apabila muntah terus berlanjut dan menganggu kehidupan sehari-hari, wanita tersebut perlu dirawat inap di RS, dengan penatalaksanaan sebagai berikut : 1. Wanita dirawat dikamar tersendiri yang tenang, tetapi terang dengan ventilasi udara yang baik, membatasi pengunjung, dengan perubahan suasana, pendampingan oleh bidan / perawat dan orang terdekat serta informasi dan komunikasi yang baik saja sering sengaja muntah sudah berkurang atau hilang tanpa pengobatan. (Rukiah,Y, 2010:121). 2. Pemberian cairan pengganti Perlu diberi cairan intravena bila ada gejala dehidrasi. Cairan yang dipakai biasanya dextrose5 % dalan larutan fisiologik sebanyak 2-3 liter perhari tergantung tingkat dehidrasi. Bila perlu diberi tambahan kalium dan vitamin B kompleks dan C. Bila ada kekurangan protein juga dapat diberi asam amino secara intravena. 3. Pendekatan Psikologik Wanita perlu diyakinkan bahwa penyakitnya dapt disembuhkan, hilangnya rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan. Dengan pendekatan konseling dan dan mencoba menemukan konflik serta mencari jalan penyelesaian masalah pssiko-sosial yang menjadi beban dan pencetus adanya hiperemesis gravidarum. Kalau perlu dan memungkinkan konsultasi dengan pekerja sosial, petugas pastoral dan psokolog. Bantuan yang positif dalam mengatasi permasalahan psikologis dan sosial dinilai cukup signifikan memberikan kemajuan keadaan umum. (Rukiah,Y, 2010:124). 4. Penghentian Kehamilan Pada beberapa kasus pengobatan hoperemesis gravidarum tidak berhasil dan kondisi pasien menjadi makin memburuk. Perlu pemeriksaan medik dan psikologis yang teliti untuk mengetahui gangguan sistemik dan beratnya komplikasi. Adanya delirium, somnolen sampai koma, kebutaan, takikardi, ikterus, anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. ( Wiknjosastro, Hanifa, 2007:279). BAB III TINJAUAN KASUS Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dengan SOAP dengan Kehamilan Hipermisis Gravidarum Tingkat I NO. REGISTER : 2809 MASUK RS TANGGAL,JAM :10 Januari 2013, 09:30 DIRAWAT DI RUANG :- Biodata Ibu Suami Nama : Ny. M TN. A Umur : 20 Tahun 30 Agama : Islam Islam Suku/ Bangsa : Aceh/ Indonesia Aceh/ Indonesia Pendidikan : SMA Swasta Alamat : Alue Bu, Alue Lhok Alue Bu, Alue Lhok 3.1. Data Subjektif (S) 1. Kunjungan saat ini : Kunjungan Pertama Keluhan utama Ibu mengatakan hamil 4 minggu HPHT 15 Januari 2013, TP 22 Oktober 2013 tes pemeriksaan kehamilan positif (+) oleh sendiri tanggal 20 Februari 2013. 2. Riwayat Perkawinan Kawin 1 kali. Kawin pertama umur 28 tahun Dengan suami sekarang 1 tahun 3. Riwayat Menstruasi Menarche umur 13 tahun. Siklus 7-8 hari. Teratur/ tidak lama 28 Hari. Sifat darah : encer. Bau Amis . Flour Albus Tidak. Dismenorrea tidak. Banyaknya 10 cc. 4. Riwayat kehamilan saat ini a. Riwayat ANC ANC sejak umur kehamilan 4 minggu. ANC di Rumah Bidan b. Pergerakan janin yang pertama pada umur kehamilan 4 minggu, pergerakan janin dalam 24 jam terakhir ± 2 kali. c. Keluhan yang dirasakan. Ibu mengatakan sering mual-muntah, ibu merasa lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun dan nyeri epigastrium semenjak 2 minggu yang lalu. d. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari Pola nutrisi Makan Minum Frekuensi sedikit,tapi secukupnya sering Macam nasi sayur, daging, - tempe dan buah Jumlah 3 kali sehari ± 2-3 liter/hari Keluhan - - Pola eliminasi BAB BAK Frekuensi 2 x 5-6 x Warna kuning putih Bau tidak sedap pesing Konsentrasi - - Jumlah - - Pola aktivitas Kegiatan sehari-hari : Istirahat : ibu tidur malam 7-8 jam/hari,tidur siang 2 jam Seksualitas : tidak ada keluhan e. Personal Hygiene Kebiasaan mandi 2 kali/sehari Kebiasaan membersihkan alat kelamin setiap BAK, BAB dan mandi, membasuh alat kelamin dan memakai sabun. Kebiasaan mengganti pakaian dalam, ibu mengganti pakaian dalam setiap sesudah mandi. Jenis pakaian dalam yang digunakan : ibu memkai pakaian dalam menyerap keringat dan nyaman di pakai. f. Imunisasi 5. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas masa lalu GI P0 Ab0 Ah0 Hamil ke Persalinan Nifas Tgl Lahir Umur Kehamilan Jenis Persalinan Penolong Komplikasi Jenis Kelamin BB Lahir Laktasi Komplikasi Ibu Bayi 6. Riwayat kontrasepsi yang digunakan No Jenis Kontrasepsi Mulai Memakai Berhenti/Ganti Cara Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh Tempat Alasan 7. Riwayat kesehatan a. Penyakit sistemik yang pernah/ sedang diderita Ibu tidak pernah menderita penyakit serius seperti jantung, hipertensi, hepar, DM, anemia, campak, malaria, TBC, Gangguan mental dan Operasi. b. Penyakit yang pernah/ sedang diderita keluarga Keluarga Ibu tidak pernah menderita penyakit serius seperti jantung, hipertensi, hepar, DM, anemia, campak, malaria, TBC, c. Riwayat keturunan kembar Ibu tidak pernah mengalami keturunan kembar d. Kebiasaan-kebiasaan Merokok : - Minum jamu jamuan : - Minum-minuman keras : - Makanan/minuman pantang : - Perubahan Pola Makan : Nafsu makan turun 8. Kaadaan Psiko social spiritual a. Kelahiran ini : Diinginkan b. Penerimaan Ibu terhadap tentang kehamilan dan keadaan sekarang Ibu mengatakan kehamilan ini direncanakan c. Penerimaan ibu terhadap kehamilan saat ini Ibu mengatakan kehamilan diinginkan d. Tanggapan Keluarga terhadap kehamilan Keluarga ibu menerima kehamilan Ny.M, tetapi sedikit khawatir, karena Ny.M mengalami mual-muntah yang berlebihan. e. Ketaatan ibu dalam beribadah Ibu menjalani ibadah, walaupun kondisinya tidak memungkinkan. 3.2. Data Objektif (O) 1. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan umum tampak lemas, b. Tanda vital TD 90/70 mmHg, nadi 102 x/menit, suhu 37,9º C, respirasi 27x/ menit, c. BB 48,5 kg.BB sebelum hamil 50 kg penurunan 1,5 kg, TB 155 cm. d. Kepala dan leher Edema wajah : sismetris dan agak pucat tidak udema Mata : konjungtifa tidak anemis, sclera tidak ikterik,mata tampak cekung Leher : tidak ada pembesaran Kelenjar Tiroid. Payudara : membesar kanan dan kiri, tumor tidak ada, areola hyperpigmentasi, putting susu tidak menonjol, kolostrum belum ada. e. Abdomen : inspeksi tidak ada bekas operasi, perut belum terlihat membesar, palpasi janin teraba ballottement, f. Ekstremitas : tungkai simetris kanan dan kiri, tidak udema, reflek patella positif kiri dan kanan. tidak varises, tugor kulit mengurang. g. Genetalia luar :tidak ada uedema, tidak ada varises. h. Anus : tidak ada Hemoroid. 2. Pemeriksaan penunjang: Hb : 11 gr%, Urine : jumlah sedikit, Protein + 1, reduksi negative, sedimen tidak ada. 3.3. Assesment (A) GI P0 A0, umur kehamilan 4 minggu dengan hiperemesis gravidarum tingkat I. Diagnose janin masih teraba ballottement.Masalah : Ibu kurang nafsu makan. Potensial masalah : dehidrasi, malnutrisi. Kebutuhan : Mengkonsumsi makanan yang bergizi. Tindakan segera : -. 3.4. Planning (P) a. Memberitahu hasil pemeriksaan bahwa keadaan ibu kurang baik TD 90/70 mmHg, nadi 102 x/menit, suhu 37,9º C, respirasi 27x/ menit,BB 48,5 kg.BB sebelum hamil 50 kg penurunan 1,5 kg, TB 155 cm. Pemeriksaan penunjang: Hb : 11 gr%, Urine : jumlah sedikit, Protein + 1, reduksi negative, sedimen tidak ada dan ibu mengalami hiperemesis gravidarum tingkat I. Ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan dan kondisi kesehatanya. b. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang normal pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan. Ibu mengerti penjelasan yang telah diberikan. c. Menganjurkan ibu di pagi hari sewaktu bangun tidur jangan langsung terburu-buru bangun, cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun, bila merasa mual bangun tidur pagi makanlah snak atau biscuit sebelum mencoba untuk bediri. Ibu mengerti dan akan melaksanakan anjuran bidan. d. Menganjurkan ibu untuk menghindari makanan berminyak, berlemakdan pedas, seperti makanan gorengan, rujak, makanan bersantan, karena dapat memperburuk rasa mual. Ibu mengerti dan akan melaksanakan anjuran bidan. e. Menganjurkan ibu untuk banyak minum air putih atau jus agar tidak dehidrasi serta menghindari minuman yang mengandung kafein dan karbonat, seperti kopi dan minuman yang bersoda. Ibu mengerti dan akan melaksanakan anjuran bidan. f. Menganjurkan ibu untuk diet Hipermisis Gravidarum tingkat III yaitu makan sesuai kesanggupan ibu dan minuman boleh diberikan bersama makanan yang cukup energy, seperti roti panggang, biscuit, krekers, buah segar, sari buah, minuman botol rinagan, sirop, kaldu tidak berlemak, teh, kopi encer. g. Memberikan ibu vitamin C dan obat emesis yaitu Mediamer B6. Ibu akan meminumnya. h. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup seperti tidur siang ± 1-2 jam malam ± 8 jam dan menganjurkan ibu untuk tidak terlalu banyak pikiran. Ibu mengerti dan akan melaksanakannya i. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang bila kondisinya makin memburuk sesegera mungkin, Ibu mengerti dan akan melaksanakannya. j. Mendokumentasi hasil pemeriksaan dan asuhan. Semua hasil pemeriksaan dan asuhan telah didokumentasikan dalam bentuk SOAP. BAB IV PENUTUP 4.1. Kesimpulan Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu menjadi buruk. Menurut berat ringannya gejala hyperemesis dibagi 3 tingkatan yaitu : - Tingkatan 1 : Ringan, mual muntah sehingga penderita lemah - Tingkatan 2 : Sedang, mual dan muntah yang hebat keadaan penderita lebih parah - Tingkatan 3 : Berat, keadaan wanita makin menurun dari tingkatan 2 4.2. Saran Dengan mempelajari dan memahami tentang hyperemesis Gravidarum dan abortus pada ibu hamil. Mahasiswa diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Kami mohon maaf jika ada kesalahan kata-kata dalam penulisan makalah ini, penulis juga meminta kritik dan saran agar bisa memperbaiki. Terima kasih. DAFTAR PUSTAKA Nugroho, Taufan. 2010. Kasus Emergency Kebidanan untuk Kebidanan dan Keperawatan. Yogyakarta : Nuha Medika Rukiyah, Yeyeh, dkk. 2010. Asuahan Kebidanan IV. Jakarta : CV. Trans Info Media Runiari, Nengah. 2010. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Hipermisis Gravidarum Penerapan konsep dan Teori Keperawatan. Jakarta : Selemba Medika Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta : EGC Wiknjosastro, Hanifa. 1992. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo

Comments

Popular posts from this blog

ANALISIS NOVEL SURAPATI KARYA ABDUL MUIS

STANDAR OPERASI PROSEDUR ( S O P ) PELAYANAN DI KAMAR KARTU / LOKET PENDAFTARAN